AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNKAR – Dr. Yusuf Qordhowi

AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNKAR

Oleh : Dr. Yusuf Qordhowi

 

Inilah  kewajiban  atau  syi’ar  yang  kelima  atau  syi’ar  yang ada,

kewajiban  ini  merupakan  baju  pelindung bagi syi’ar-syi’ar lainnya.

Barangkali  akan  membuat  terkejut bagi sebagian orang jika kewajiban

amar  maÕruf  nahi  munkar ini termasuk kewajiban-kewajiban yang asasi

dalam  Islam,  karena selama ini yang terkenal adalah empat yang telah

disebutkan pertama.

 

Tetapi  bagi  siapa  saja yang mau mempelajari Al Qur’an dan As-Sunnah

dia  akan  menemukan  bahwa  itu lebih jelas dan terang dari terangnya

sinar fajar.

 

Al   Qur’an   telah   menjadikan   amar  ma’ruf  nahi  munkar  sebagai

keistimewaan  yang  pertama  yang  dimiliki  oleh  ummat  ini dan yang

mengungguli ummat-ummat lainnya. Allah SWT berfirman:

 

“Kamu  adalah  ummat  yang  terbaik  yang  dilahirkan  untuk  manusia,

menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman

kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

 

Dalam   ayat   ini  penyebutan  amar  ma’ruf  dan  nahi  munkar  lebih

didahulukan daripada penyebutan iman, padahal iman merupakan asas. Hal

ini  karena  iman  kepada  Allah itu merupakan ketentuan yang bersifat

umum  (dimiliki)  antara  umat-umat  Ahlul Kitab semuanya, tetapi amar

ma’ruf   nahi   munkar   merupakan   kemuliaan   ummat   ini.  Seperti

tumbuh-tumbuhan  padang pasir, Allah-lah yang mengeluarkannya, dan dia

tidak  dikeluarkan  agar  hidup untuk dirinya saja, tetapi dikeluarkan

untuk  (kemaslahatan) ummat manusia seluruhnya. Ummat ini adalah ummat

dakwah   dan   risalah,   tugasnya   menyebarkan   yang   ma’ruf   dan

memperkuatnya, dan mencegah yang munkar serta menghancurkannya.

 

Sebelum  ayat di atas disebutkan, dalam beberapa ayat sebelumnya Allah

SWT berfirman:

 

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada

kebajikan,  menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;

merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

 

Ayat  di  atas  memiliki dua makna; yang pertama kalimat “min” berarti

lit-tajrid,  dengan demikian artinya hendaklah kamu menjadi ummat yang

selalu mengajak kepada kebajikan. Dan barangkali yang memperkuat makna

ini  adalah  pembatasan keberuntungan kepada mereka, bukan kepada yang

lain, seperti yang ada pada kalimat “wa ulauika humul muflihuun.”

 

Makna   tafsirnya:  hendaklah  seluruh  ummat  Islam  menjadi  penyeru

kebaikan,   memerintahkan   yang   ma’ruf   dan  mencegah  kemunkaran,

masing-masing  sesuai  dengan  kedudukan  dan  kemampuannya,  sehingga

termasuk berhak memperoleh keberuntungan.

 

Makna  yang  kedua,  kata  “min”  berarti lit-tab’idh–sebagaimana ini

terkenal–artinya   hendaklah   di  dalam  masyarakat  Islam  itu  ada

sekelompok   kaum   Muslimin   yang  memiliki  spesialisasi,  memiliki

kemampuan   dan   memiliki   persiapan  yang  sesuai  untuk  mengemban

kewajiban.berdakwah  dan  beramar  ma’ruf  nahi  munkar. Yang dimaksud

“thaifah”  di sini adalah mewuludkan Jamaatul Muslimin secara umum dan

ulil   amri  secara  khusus.  Maka  wajib  bagi  mereka  mempersiapkan

sebab-sebab   (sarana)   untuk   terwujudnya   thaifah   tersebut  dan

mendukungnya  baik  secara  moril  maupun materiil agar dapat tertegak

risalah-Nya.  Selagi  ummat atau thaifah yang dicita-citakan ini belum

terwujud  maka  dosanya  akan  ditanggung  oleh seluruh kaum Muslimin,

sebagai fardhu kifayah yang ditinggalkan dan diabaikan.

 

Tidak  cukup  adartya afrad (individu-individu) yang berserakan (tidak

teratur),  yang  hanya  melakukan  ceramah  dalam  suatu  negara  yang

mengatur mereka atau suatu masyarakat yang jauh dari mereka. Al Qur’an

tidak  menginginkan  yang  demikian,  melainkan  Al Qur’an menghendaki

adanya  ummat,  yang  mengharuskan  ummat itu untuk memiliki kebebasan

berdakwah ke arah kebaikan, di mana pintu kebaikan yang terbesar ialah

Islam.  Hendaknya  ummat itu mampu memerintah dan melarang, karena hal

itu  adalah perkara yang lebih khusus dan lebih besar daripada sekedar

mau  ‘izhah  dan  tadzkir  (nasehat dan peringatan). Setiap orang yang

mempunyai  lidah, ia bisa memberi nasehat dan peringatan, tetapi tidak

selamanya  bisa  memerintah  dan melarang. Dan yang dituntut oleh ayat

tersebut  adalah mewujudkan ummat yang mampu berdakwah, memerintah dan

melarang.

 

Dalam  menjelaskan  ciri-ciri  secara umum bagi masyarakat mukmin yang

berbeda  dengan  masyarakat  orang-orang  kafir dan munafik, Al Qur’an

berbicara dalam surat At-Taubah:

 

“Dan  orang-orang beriman, lelaki dan wanita, sebagian mereka (adalah)

menjadi   penolong   bagi   sebagian   yang   lain.   Mereka  menyuruh

(mengerjakan)  yang  ma’ruf  dan  melarang dari yang munkar dan mereka

taat  kepada  Allah  dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh

Allah.   Sesungguhnya   Allah   Maha  Perkasa  lagi  Maha  Bijaksana.”

(At-Taubah: 71)

 

Di  antara  keindahan  ayat  ini,  bahwa  Dia  menyertakan mukminah di

samping  mukminin  dan  menjadikan kasih sayang serta saling mendukung

antara  mereka.  Serta memikulkan kepada mereka, baik laki-laki maupun

perempuan,  tugas  amar ma’ruf nahi munkar, dan mendahulukan tugas itu

atas  shalat  dan  zakat. Karena amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan

ciri  utama bagi masyarakat Islam dan bagi individu anggota masyarakat

tersebut.  Islam  tidak  menghendaki  mereka  baik  hanya  untuk  diri

sendiri. sementara mereka tidak berupaya untuk memperbaiki orang lain.

Dalam hal ini Allah menjelaskan dalam Surat Al Ashr:

 

“Demi   masa,   sesungguhnya  manusia  itu  benar-benar  berada  dalam

kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih

dan   nasehat   menasehati   supaya  mentaati  kebenaran  dan  nasehat

menasehati supaya mentaati kesabaran.” (Al Ashr: 1-3)

 

Maka tidak cukup hanya dengan iman dan beramal shalih untuk memperoleh

keselamatan   dari   kerugian  dan  kehancuran,  sehingga  mereka  mau

melaksanakan  saling  berwasiat  dalam  melakukan kebenaran dan saling

mewasiati  untuk tetap bersabar. Dengan kata lain, sehingga mereka mau

memperbaiki  orang  lain  dan  menyebarkan makna saling menasehati dan

dakwah  di masyarakat untuk berpegang kepada kebenaran dan tetap dalam

kesabaran. Dan hal itu termasuk pilar kekuatan masyarakat setelah iman

dan amal shalih.

 

Di dalam surat At-Taubah juga ada penjelasan tentang sifat-sifat orang

yang  beriman  yang  mana Allah telah membeli (menukar) diri dan harta

mereka dengan surga, demikian itu tersebut dalam firman Allah SWT:

 

“Mereka  itu  adalah  orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang

memuji (Allah), yang melawat, yang ruku’, yang menyuruh berbuat ma’ruf

dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan

gembirakanlah orang-orang rnakmin itu.” (At-Taubah: 112)

 

Dalam  Surat  Al Hajj, Al Qur’an menjelaskan kewajiban yang terpenting

ketika  ummat Islam diberi kesempatan oleh Allah SWT di bumi ini untuk

memiliki daulah dan kekuasaan, Allah berfirman:

 

“sesungguhnya  Allah  pasti  menolong  orang yang menolong (agama)Nya,

sesungguhnya   Allah  benar-benar  Maha  Kuat  lagi  Perkasa.  (Yaitu)

orang-orang  yang  jika  kami  teguhkan kedudukan mereka di muka bumi,

niscaya  mereka  mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat

yang  ma’ruf  dan  mencegah  dari  perbuatan  yang  munkar; dan kepada

Allah-lah kembali segala urusan.” (Al Hajj: 40-41)

 

Amar  ma’ruf  dan  nahi munkar’ setelah shalat dan zakat adalah faktor

terpenting dalam Daulah Islamiyah. Setelah Allah memberikan daulah itu

kepada  ummat Islam dan memenangkan atas musuhnya. Bahkan mereka tidak

berhak  memperoleh pertolongan Allah kecuali dengan melaksanakan tugas

itu, sebagaimana diterangkan dalam dua ayat tersebut.

 

Inilah  kewajiban  amar  ma’ruf  dan  nahi  munkar  dalam  Al  Qur’an.

Sesungguhnya  ia  merupakan  lambang  atas  wajibnya  takaful  (saling

memikul beban) secara moral di antara kaum Muslimin, sebagaimana zakat

merupakan lambang atas wajibnya takaful materi di antara mereka.

 

Rasulullah  SAW  telah  menggambarkan takaful adabi (moral) itu dengan

gambaran  atau ilustrasi yang menarik sekali, sebagaimana diriwayatkan

oleh Nu’man bin Basyir RA, Rasulullah SAW bersabda:

 

“Perumpamaan  orang  yang  berpegang dengan hukum-hukum Allah dan yang

melanggarnya  itu bagaikan kaum yang sama-sama menaiki kapal, sebagian

ada  yang  di  atas  dan  sebagian ada yang di bawah, orang-orang yang

berada  di  bawah  apabila  ingin  mengambil  air mereka mesti melalui

orang-orang  yang  berada  di atas, la1u orang-orang yang di bawah itu

berkata, “Seandainya kita lubangi (kapal ini) untuk memenuhi kebutuhan

kita  maka  kita  tidak  usah  mengganggu orang-orang yang ada di atas

kita!”  Maka  jika  orang-orang  yang  di  atas itu membiarkan kemauan

mereka  yang  di  bawah,  akan  tenggelamlah semuanya, dan jika mereka

menahan  tangan  orang-orang,  yang  di bawah, maka akan selamat, dari

selamatlah semuanya.” (HR. Bukhari)

 

Sesungguhnya  seburuk-buruk  sesuatu  yang  menimpa  masyarakat adalah

zhalimnya  para thaghut atau takutnya rakyat terhadap mereka, sehingga

tidak  ada  suara  haq,  da’wah, nasihat, amar ma’ruf dan nahi munkar.

Dengan  demikian  hancurlah  mimbar-mimbar  perbaikan,  semakin  surut

nilai-nilai  kekuatan  dan  semakin  layu  pula  pohon-pohon kebaikan,

sementara   kejahatan   dan   para  penyerunya  semakin  berani  untuk

bermunculan  dan  menyebarkannya,  sehingga  mereka  berhasil  membuka

pasar-pasar kerusakan, memasarkan dagangan Iblis dan tentaranya, tanpa

ada yang melawan dan menghentikan.

 

Ketika  itulah  maka  masyarakat  itu  akan menerima ancaman Allah dan

siksa-Nya,  sehingga  bala,  dan  bencana itu akan menimpa orang-orang

yang berbuat kemunkaran dan yang mendiamkannya, Allah SWT berfirman:

 

“Dan  peliharalah  dirimu  dari  siksaan  yang  tidak  khusus  menimpa

orang-orang  yang  zhalim  saja di antara kalian. Dan ketahuilah bahwa

Allah amat keras siksaan-Nya.” (Al Anfal: 25)

 

Rasulullah juga bersabda:

 

“Sesungguhnya  manusia  itu  apabila  melihat  orang yang zhalim, lalu

mereka  tidak  memegang  kedua tangannya (mencegahnya) maka Allah akan

meratakan siksa dari sisi-Nya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i)

 

Sesungguhnya  Allah  telah  melaknat  Bani  Israil  melalui lisan para

Nabi-Nya  dan  memukul  hati  sebagian  mereka  dengan  sebagian serta

mengangkat  pemimpin  dari  orang  yang  tidak berbelas kasihan kepada

mereka.  Hal  itu  disebabkan karena tersebarnya kemungkaran di antara

mereka tanpa ada orang yang merubah atau melarangnya.

 

Allah SWT berfirman:

 

“Telah  dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud

dan  Isa  putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkari mereka durhaka

dan  selalu  melampaui  batas.  Mereka  satu  sama  lain  selalu tidak

melarang  tindakan  mungkar  yang  mereka  perbuat.  Sesungguhnya amat

buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Al Maidah: 78-79)

 

Lebih  buruk  dari  apa  yang  telah  kita  sebutkan  adalah jika hati

masyarakat  itu  telah  mati  atau paling tidak sakit, setelah lamanya

bergaul dengan kemungkaran dan mendiamkannya, sehingga kehilangan rasa

keberagamaan  dan  akhlaqnya.  Yang dengan perasaan itu akan diketahui

yang ma ruf dari yang mungkar. Mereka telah kehilangan kecerdasan yang

(seharusnya) mampu membedakan antara yang baik dengan yang buruk, yang

halal  dan yang haram, yang lurus dan yang menyimpang, maka ketika itu

rusaklah  standar  masyarakat.  Sehingga  mereka  melihat perkara yang

sunnah  menjadi bid’ah, yang bid’ah menjadi sunnah. Gejala lain adalah

apa  yang  saat  ini  kita  lihat  dan  rasakan di kalangan kebanyakan

anak-anak  kaum  Muslimin,  yaitu  anggapan  bahwa  beragama itu suatu

kemunduran,  istiqamah  itu  kuno  dan  teguh  dalam  pendirian justru

dianggap  jumud  (beku), sementara kemaksiatan dikatakan sebagai seni,

kekufuran  menjadi  sebuah  kebebasan,  dekadensi  moral menjadi suatu

kemajuan dan memanfaatkan warisan salaf dianggap keterbelakangan dalam

berfikir.  Sampai  pada  hal-hal  yang tidak kita ketahui, atau dengan

kata  lain  yang  singkat,  yang ma’ruf telah menjadi munkar, dan yang

munkar telah menjadi ma’ruf dalam pandangan mereka.

 

Lebih  buruk  dari  itu semua ketika suara kebenaran itu mulai meredup

(hilang),  sementara  teriakan  kebathilan semakin menggelora memenuhi

seluruh  penjuru  dunia  untuk  mengajak pada kerusakan, memerintahkan

untuk  berbuat  kemungkaran  dan  melarang  dari  yang  ma’ruf. Itulah

teriakan  orang-orang  yang  ciri-cirinya  telah  disebutkan  di dalam

hadits  Rasulullah  SAU:  bahwa  mereka  adalah  “Du’aat  ‘ala abwaabi

jahannam,  man  ajaa-bahum  ilahaa  qadzafuuhu  jahannam,” barangsiapa

menyambut  ajakan  mereka,  maka  mereka akan melemparkannya ke neraka

jahannam.

 

Inilah  keadaan  orang-orang  munafik  yang Al Qur’an telah mengatakan

bahwa  mereka  adalah penghuni dasar yang terbawah dari neraka. Itulah

masyarakat yang ciri-cirinya telah disebutkan dalam ayat berikut ini:

 

“Orang-orang   munafik,   laki-laki  dan  perempuan,  sebagian  dengan

sebagian  yang  lain  adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang munkar

dan  melarang  berbuat  yang  ma’uf  dan mereka menggenggam tangannya.

Mereka   telah   lupa  kepada  Allah,  maka  Allah  melupakan  mereka.

Sesunggluhnya  orang-orang  munafik  itulah  orang-orang  yang fasik.”

(At-Taubah: 67)

 

Sifat-sifat  itu  sangat  bertentangan  dengan  sifat-sifat masyarakat

Islam, sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut:

 

“Dan  orang-orang  yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka

adalah  menjadi  penolong  bagi  sebagian  yang  lain. Mereka menyuruh

(mengerjakan)  yang  ma’ruf;  mencegah  dari  yang  munkar, mendirikan

shalat,  menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mereka  itu  akan  diberi  rahmat  oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha

Perkasa Lagi Maha Bijaksana.” (At-Taubah: 71)

 

Yang  patut kita perhatikan di sini bahwa mereka (orang-orang munafik)

itu  masyarakat  yang  kepalanya  terbalik,  yang  memerintahkan untuk

berbuat kemunkaran dan mencegah dari yang ma’ruf.

 

Maka apabila suara haq itu telah menggema untuk mengajak kepada Allah,

memerintahkan  untuk  berbuat  adil  dan  melarang  dari kerusakan dan

kezhaliman,  maka  pembalasan  yang  mereka  (para da’i) terima adalah

pemberangusan   secara   terang-terangan   berupa  kematian  di  tiang

gantungan  di  siang  hari  atau  penangkapan  secara rahasia kemudian

dibunuh   dengan  senjata  atau  disiksa  dengan  cemeti  (cambuk)  di

tengah-tengah  malam.  Sebagaimana  hal itu dilakukan oleh Bani Israil

terhadap  para  Nabi-Nya.  Mereka membunuhnya tanpa alasan yang benar,

sehingga  sebagian  mereka  ada  lagi yang membuat rencana buruk untuk

membunuh  dan  menyalib  nabinya, sampai akhirnya Allah mengangkat dan

menyelamatkannya. Mereka benar-benar telah membunuh para nabi dan para

da’i. sebagaimana dinyatakan oleh firman Allah SWT:

 

“Sesungguhnya  orang-orang  yang  kafir  kepada  ayat-ayat  Allah  dan

membunuh   para   Nabi  yang  memang  tidak  dibenarkan  dan  membunuh

orang-orang  yang  menyuruh  manusia  berbuat adil, maka gembirakanlah

mereka  bahwa  mereka  akan  menerima  siksa yang pedih. Mereka itulah

orang-orang  yang  lenyap  (pahala) amal-amalnya di dunia dan akherat,

dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong.” (Ali Imran: 21-22)

 

Sesungguhnya  berbagai  tahapan  dalam  kemerosotan  dan kerusakan itu

saling  terkait  antara  satu  tahapan  dengan  tahapan  yang lainnya.

Hal-hal   yang   syubhat  menarik  atau  mengarahkan  pada  terjadinya

dosa-dosa kecil, dan dosa-dosa kecil itu menarik atau mengarahkan pada

dosa-dosa  besar,  sedangkan  dosa-dosa  yang  besar itu mengarah pada

kekufuran. Semoga Allah melindungi kita dari yang demikian.

 

Di  antara  hadits-hadits yang paling menank, yang menjelaskan tentang

arus  kemerosotan, kejahatan dan kemaksiatan adalah hadits-hadits yang

diriwayatkan Abu Umamah, marfu’:

 

“Bagaimana   kamu,   jika  isteri-isterimu  telah  berbuat  zina,  dan

pemuda-pemudanya  telah  fasik,  dan  kamu  telah meninggalkan jihad?”

Sahabat  bertanya,  “Apakah  itu  akan terjadi wahai Rasulullah?” Nabi

menjawab,  “Ya, demi Dzat yang diriku ada ditangan-Nya’ lebih dari itu

akan  terjadi.” Sahabat bertanya, “Apa yang lebih berat dari itu wahai

Rasulullah?”   Nabi   bersabda,   “Bagaimana  kamu,  jika  kamu  tidak

melaksanakan  amar  ma’ruf dan nahi mungkar?” Mereka bertanya, “Apakah

itu  akan  terjadi  wahai  Rasulullah ?” Nabi bersabda, “Ya, demi Dzat

yang diriku berada di tangan-Nya, lebih dari itu akan terjadi!” Mereka

bertanya,  “Apakah  yang  lebih  dari  itu  wahai  Rasul  Allah?” Nabi

bersabda, “Bagaimana kamu jika kamu melihat yang ma’ruf menjadi munkar

dan  yang  munkar  menjadi ma’ruf?” Mereka bertanya, “Apa kah itu akan

terjadi  wahai  Rasulullah?” Nabi menjawab, “Ya, demi Dzat yang diriku

berada  di  tangan-Nya,  yang  lebih  dari  itu akan terjadi !” Mereka

bertanya,  “Apa  yang lebih dari itu wahai Rasulullah?” Nabi bersabda,

“Bagaimana   pendapatmu  jika  kamu  memerintahkan  yang  mungkar  dan

melarang yang ma’ruf?” Mereka bertanya, “Apakah itu akan terjadi wahai

Rasulullah?”  Nabi  menjawab,  “Ya,  demi  Dzat  yang diriku berada di

tangan-Nya,  lebih  dari  itu  akan terjadi !”Allah SWT bersabda, “Aku

bersumpah  demi  Aku, akan Aku buka untuk mereka fitnah, di mana orang

yang  sabar  (penyantun)  karena fitnah itu menjadi kebingungan.” (HR.

Abid Dunya -Dha’if-)

 

Nampaknya  kebanyakan  dari hal-hal yang diperingatkan oleh hadits ini

sudah  terjadi,  sehingga  yang ma’ruf menjadi munkar, dan yang munkar

menjadi  ma’ruf,  seakan-akan  dakwah kepada Islam dan syari’atnya itu

suatu  kesalahan  atau  dosa.  Dan para da’i pun telah dituduh sebagai

fundamentalis, ekstrim, yang posisinya selalu tertuduh.

 

Tetapi  para da’i ilallah, orang-orang yang beramar ma’ruf nahi munkar

dan  para  pelindung  dan  pembangkit  agama Allah, suara mereka masih

tetap   kuat   bersama  kebenaran  (yang  dibawanya),  meskipun  suara

kebatilan di kanan kirinya terus menggema.

 

Yang  penting  adalah  memperkuat pelaksanaan kewajiban yang besar ini

dan menghidupkannya kembali, serta menghidupkan aktifitas dakwah, yang

dengannya  akan  sanggup  melaksanakan  syiar ini dalam kehidupan yang

nyata.  Dan para da’i dalam hal ini memiliki peran yang sangat penting

dalam masyarakat Islam.

 

Jika   sebagian   manusia  dewasa  ini  berbicara  tentang  pentingnya

membentuk  opini  umum  dan pengaruhnya dalam mengawasi dan memelihara

prinsip-prinsip   umat,   akhlaq,   moral   dan  kepentingannya  serta

meluruskan   apa-apa   yang   dianggap   bengkok  (tidak  benar)  dari

masalah-masalah  kehidupannya,  maka  kewajiban  beramar  ma’ruf  nahi

munkar adalah sarana terbaik yang menjamin tercapainya tujuan tersebut

untuk  membentuk opini umum yang bersandar pada standar akhlak Islami,

tata  susila  yang  paling benar, paling adil, paling kekal dan paling

kuat,  karena  standar  itu  diambil dari Al Haq yang ‘azli dan abadi,

yaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

 

Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah

(Malaamihu Al Mujtama’ Al Muslim Alladzi Nasyuduh)

oleh Dr. Yusuf Qardhawi

Cetakan Pertama Januari 1997

Citra Islami Press

Jl. Kol. Sutarto 88 (lama)

Telp.(0271) 632990 Solo 57126

 

One Response to “AMAR MA’RUF DAN NAHI MUNKAR – Dr. Yusuf Qordhowi”

  1. a good article, thank’s

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: