Mengungkap Syubhat Hadits Riwayat Siti Aisyah ra

 

Mengungkap Syubhat Hadits Riwayat Siti Aisyah ra

Publikasi 11/08/2005

 

hayatulislam.net

Soal: Ustadz yang terhormat, saya ingin nanya sebuah

hadits yang sering digunakan oleh kaum Ahamdiyah. Mereka mengatakan bahwa

Siti Aisyah ra pernah berkata bahwa……”Katakanlah oleh kalian penutup para

nabi, namun janganlah kalian mengatakan tiada nabi setelah beliau!” Hadits

ini mereka menggunakan untuk mendukung pendapat mereka bahwa ada nabi

setelah nabi Muhammad Saw (red: si Mirza). Mohon tanggapannya.

 

Jawab: Di dalam kitab Durr al-Mantsûr, karya al-Hafidz al-Suyuthi, juz 6,

hal. 618, dituturkan sebuah riwayat sebagai berikut:

 

Dituturkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Aisyah ra, bahwasanya beliau berkata,

“Katakanlah ‘khâtam al-nabiyyîn’, dan jangan berkata, ‘lâ nabiya ba’di’.”

 

Hadits ini sering dijadikan hujjah oleh orang Ahmadiyah untuk membenarkan

penakwilan mereka terhadap frasa “khâtam al-nabiyyîn”. Mereka menakwilkan

“khâtam al-nabiyyîn”, bukan sebagai penutup para nabi, atau nabi terakhir,

akan tetapi, masih terbukanya kenabian dan risalah. Dengan kata lain, akan

datang nabi dan rasul baru setelah Nabi Muhammad Saw wafat, yang tidak

membatalkan syariatnya Muhammad Saw. Mereka menyakini, bahwa hadits ini

menunjukkan kedatangan nabi dan rasul baru, meskipun ia tidak membawa

syariat baru yang membatalkan syariatnya Muhammad Saw. Masih menurut mereka,

nabi yang ditolak pada hadits-hadits “lâ nabiya ba’di” hanyalah Nabi dan

Rasul baru yang membatalkan syariat Muhammad, sedangkan Nabi dan Rasul baru

yang tidak membatalkan syariat Muhammad tetap akan datang. Contohnya adalah

Mirza Ghulam Ahmad.

 

Sesungguhnya keyakinan semacam ini adalah penakwilan sesat yang bertentangan

dengan aqidah kaum Muslim. Adapun bantahan terhadap pendapat ini adalah

sebagai berikut:

 

Pertama, pada dasarnya, hadits ini adalah perkataan Aisyah ra bukan

perkataan Rasulullah Saw. Oleh karena itu, hadits ini secara ushul tidak

bisa digunakan hujjah, sebab ia hanya pendapat atau interpretasi shahabat.

Selain itu, hadits ini adalah hadits ahad sehingga tidak layak digunakan

hujjah untuk membangun masalah-masalah aqidah. Sebab, menyakini ada atau

tidak adanya nabi dan Rasul baru setelah Rasulullah Saw wafat termasuk

bagian dari keimanan. Sedangkan keimanan tidak boleh dibangun berdasarkan

dalil-dalil dzanni; termasuk di dalamnya hadits ahad. Oleh karena itu,

berhujjah dengan hadits ini telah gugur secara ushuliy.

 

Kedua, adapun hadits-hadits tentang “khâtam al-nabiyyîn” yang marfu’ dari

Rasulullah Saw menunjukkan dengan sangat jelas tidak adanya risalah dan

nubuwwah, setelah beliau Saw. Dengan kata lain, tidak ada lagi nabi dan

rasul baru setelah beliau Saw. Yang ada hanyalah berita tentang datangnya

nabi Isa as dan Imam Mahdi, bukan nabi maupun rasul baru. Banyak hadits

telah menuturkan masalah semacam ini, dan menggunakan redaksi “lâ nabiya

ba’di”.

 

Imam at-Tirmidzi mengetengahkan sebuah riwayat dari Anas bin Malik, bahwa

Rasulullah Saw bersabda:

 

“Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada rasul

dan nabi sesudahku.” [HR. at-Tirmidzi, juz 3, hal. 364].

 

Hadits ini adalah dalil tegas yang menunjukkan, bahwa nubuwwah dan risalah

sudah tidak ada lagi setelah diutusnya Nabi Muhammad Saw. Dengan kata lain,

tidak ada lagi pengangkatan nabi dan rasul baru setelah diangkatnya Nabi

Muhammad Saw.

 

Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah

Saw bersabda:

 

“Adalah Bani Israil, urusan mereka senantiasa diatur oleh para Nabi, setiap

Nabinya telah wafat, maka akan diganti Nabi yang lain. Akan tetapi, tidak

ada nabi sesudahku; yang ada adalah para khalifah dan jumlahnya sangat

banyak.” [HR. Imam Bukhari, juz 2, hal. 175].

 

Hadits ini memberikan pengertian, bahwa setelah Rasulullah Saw wafat tidak

ada lagi Nabi dan Rasul baru secara mutlak, baik yang membawa syariat baru

maupun tidak. Yang ada hanyalah para khalifah yang jumlahnya banyak.

 

Imam Bukhari juga meriwayatkan sebuah hadits dari Mush’ab bin Sa’ad dari

ayahnya, bahwasanya Rasulullah Saw berangkat menuju Tabuk dan mengangkat Ali

ra sebagai penggantinya di Madinah. Lalu Ali berkata, “Apakah engkau

mengangkatku untuk mengurusi anak-anak dan wanita?” Beliau Saw bersabda,

“Tidakkah engkau rela (wahai Ali), bahwa kedudukanmu sebagaimana kedudukan

Harun terhadap Musa? Akan tetapi, tidak ada nabi setelahku.” [HR. Imam

Bukhari].

 

Hadits ini menegaskan, bahwa kedudukan Ali ra tak ubahnya dengan kedudukan

Harun as yang menggantikan Musa as. Namun, agar Ali ra memahami bahwa

kedudukannya dengan Harun as hanya sama dari sisi sebagai wakil (pengganti),

dan bukan dari sisi kenabian, maka beliau Saw menegaskan dengan kalimat

“akan tetapi, tidak ada nabi setelahku.” Artinya, kedudukan Ali ra sama

dengan Harun as, dari sisi sama-sama sebagai pengganti saja, namun Ali ra

bukanlah seorang Nabi seperti halnya Harun as.

 

Walhasil, hadits ini adalah dalil sharih yang menegaskan tidak adanya nabi

dan rasul baru setelah Nabi Muhammad Saw.

 

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Uqbah bin ‘Aamir,

bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

 

“Jika ada Nabi sesudahku, tentu yang akan menjadi Nabi adalah Umar bin

Khaththab.” [HR. at-Tirmidzi, juz 5, hal. 338].

 

Seandainya ada nabi setelah Rasul, tentunya yang lebih berhak menyandang

adalah Umar bukan Mirza Ghulam Ahmad. Faktanya, Umar tidak menjadi Nabi. Ini

menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa setelah Nabi Saw wafat tidak ada lagi

nabi dan Rasul.

 

Imam Ibnu ‘Asakir mengetengahkan sebuah riwayat, bahwasanya Nabi Saw

bersabda:

 

“Aku adalah Muhammad. Aku adalah Ahmad. Aku adalah al-Mâhiy yang menghapus

kekafiran. Aku adalah al-Hâsyir yang mengumpulkan manusia di telapak kakiku.

Dan aku adalah al-‘âqib yang tidak ada nabi setelah aku.” [HR. Ibnu ‘Asakir,

Tarikh Madinatu Damsyir, juz 3, hal, 21].

 

Al-‘âqib maknanya adalah nabi terakhir yang tidak ada nabi dan rasul

sesudahnya. Imam Bukhari, Imam Muslim, dan at-Tirmidzi juga meriwayatkan

hadits-hadits yang menuturkan tentang al-‘âqib (lihat Imam Bukhari, Shahih

Bukhari, juz 2, hal. 270; Imam Muslim, Shahih Muslim, juz 2, hal. 336; Imam

at-Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi, juz. 4, hal. 214). Bentuk muanntas

(perempuan) dari kata ‘âqib adalah ‘âqibah yang di dalam al-Qur’an, semuanya

bermakna akhir atau kesudahan. Diantaranya adalah firman Allah SWT:

 

“Dan kami telah turunkan hujan kepada mereka (kaum Nabi Luth) dengan hujan

batu, maka perhatikanlah bagaimana kesudahan (akhir) [‘âqibah] orang-orang

yang berdosa.” (Qs. al-A’râf [7]: 84).

 

Allah SWT juga berfirman:

 

“Maka, perhatikanlah bagaimana kesudahan (akhir) [‘âqibah] orang yang

berbuat kerusakan.” (Qs. al-A’râf [7]: 103).

 

Imam Muslim, dalam Shahih Muslim meriwayatkan sebuah hadits, bahwasanya

Rasulullah saw bersabda:

 

“Sesungguhnya, saya adalah Nabi yang paling akhir, dan sesungguhnya masjidku

adalah yang paling akhir dari sekalian masjid yang dibangun oleh para Nabi.”

[HR. Imam Muslim, Shahih Muslim, juz 1, hal. 581].

 

Dan masih banyak lagi hadits-hadits lain yang menggunakan redaksi “lâ

nabiyya ba’di”. Hadits-hadits di atas menunjukkan dengan sangat jelas, bahwa

risalah dan nubuwah telah berakhir setelah mangkatnya Nabi Muhammad Saw.

Tidak ada lagi nabi dan rasul baru setelah datangnya nabi terakhir, Muhammad

Saw. Dengan kata lain, tidak ada Nabi yang tidak membawa syariat, maupun

Nabi baru yang membawa syariat setelah Rasulullah Saw. Yang ada hanyalah

kedatangan Nabi Isa as, bukan yang nabi dan rasul baru.

 

Adapun perkataan, Aisyah ra tersebut tidak mungkin dipahami adanya Nabi

maupun Rasul baru (Mirza Ghulam Ahmad) setelah Nabi Saw mangkat. Perkataan

Aisyah itu bisa ditafsirkan sebagai berikut:

 

1. Beliau ra tidak ingin orang-orang mencampuradukkan istilah al-Qur’an

dengan hadits Nabi. Khâtam al-Nabiy adalah kata yang termaktub di dalam

al-Qur’an, sedangkan “lâ nabiyya ba’di” adalah istilah dari Rasulullah Saw

(hadits). Apa yang diucapkan Aisyah tersebut hanyalah nasehat agar para

shahabat menggunakan istilah yang telah disebutkan di dalam al-Qur’an saja

agar istilah al-Quran (khâtam al-nabiy) benar-benar terpisah dengan istilah

hadits “lâ nabiya ba’di”. Hanya saja tidak boleh dipahami bahwa Aisyah

memiliki keyakinan seperti halnya keyakinan orang Ahmadiyyah, bahwa setelah

Nabi Muhammad saw masih ada nabi baru lagi. Sebab, kata khâtamun nabiy

sendiri maknanya adalah “lâ nabiya ba’di”. Artinya, tidak ada pengangkatan

nabi dan rasul baru.

 

2. Aisyah ra khawatir jika para shahabat menggunakan ungkapan “lâ nabiyya

ba’di”, ungkapan ini akan rancau dengan hadits-hadits yang bertutur tentang

datangnya Isa al-Masih as. Dengan kata lain, beliau khawatir orang tidak

akan menyakini datangnya Isa as setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Sebab,

Rasulullah Saw di banyak hadits menuturkan tentang akan datangnya Isa

al-Masih as. Padahal Isa al-Masih as adalah seorang Nabi. Dengan kata lain,

Aisyah khawatir jika istilah “lâ nabiya ba’di” ini dipakai, konotasinya

seakan-akan menafikan datangnya Nabi Isa as setelah wafatnya Rasulullah Saw.

Oleh karena itu, wajar saja jika Aisyah ra melarang penggunaan istilah “lâ

nabiya ba’di”, agar orang tidak melupakan kedatangan Nabi Isa as. Hanya

saja, perkataan Aisyah di atas sama sekali tidak melarang atau mengharamkan

penggunaan istilah “lâ nabiya ba’di”. Sebab, Rasulullah Saw dan para

shahabat juga menggunakan istilah ini di banyak riwayat. Perkataan Aisyah di

atas hanya berhubungan dengan masalah “mana yang lebih utama”. Menurut

Aisyah ra, tidak menggunakan istilah “lâ nabiya ba’di” itu lebih utama.

Sebab, istilah “lâ nabiya ba’di” ini akan menimbulkan kerancuan bagi

orang-orang yang awam; yang berakibat mereka tidak menyakini datangnya Isa

as. Menurut beliau ra, yang lebih utama adalah menggunakan istilah “khâtamun

nabiy”, meskipun Aisyah juga memahami bahwa maksud dari “khâtamun nabiy”

adalah “lâ nabiya ba’di” (tidak ada Nabi baru setelahku). Pengertian semacam

ini diperkuat dengan hadits yang diriwayatkan oleh Mughirah bin Syu’bah.

Dari Sya’bi dituturkan, bahwasanya ada seorang laki-laki berada di sisi

Mughirah bin Syu’bah ra, serta berkata, “Allah SWT memberi rahmat kepada

Muhammad Khâtamun Nabiyyîn, yang tidak ada nabi setelahnya.” Mendengar

perkataan ini, Mughirah bin Syu’bah berkata, “Cukuplah engkau berkata, bahwa

Rasulullah Saw adalah Khâtamun Nabiyyîn saja. Sebab, kami telah mendengarkan

hadits bahwa Isa putera Maryam as akan datang kembali. Jika ia telah datang,

maka ia ada setelah dan sesudah Nabi Muhammad Saw.” (al-Hafidz as-Suyuthi,

Durr al-Mantsûr, juz 6, hal 618).

 

Ucapan Mughirah bin Syu’bah ini menunjukkan, bahwa beliau ra khawatir orang

tidak akan menyakini datangnya Isa al-Masih as, jika mereka menggunakan

istilah “lâ nabiya ba’di”. Sebab, setelah Nabi Muhammad Saw akan datang

kembali Nabi Isa as, bukan nabi yang baru. Atas dasar itu, ucapan Mughirah

ini justru semakin menguatkan, bahwa para shahabat ra telah memahami setelah

wafatnya Nabi Muhammad Saw tidak akan ada Nabi dan Rasul baru. Yang ada

hanyalah datangnya Nabi Isa as. Sedangkan Nabi Isa bukanlah nabi baru.

Beliau as adalah seorang Nabi yang telah diutus jauh sebelum datangnya

Muhammad Saw. Oleh karena itu, hadits Aisyah ra dan Mughirah bin Syu’bah ini

sama sekali tidak bertentangan dengan hadits “lâ nabiya ba’di” yang terdapat

di dalam banyak riwayat. Bahkan, hadits tersebut (hadits riwayat Aisyah dan

Musghirah ra) semakin menguatkan pendirian yang menyatakan tidak ada nabi

dan rasul baru setelah Nabi Muhammad Saw, dan yang ada hanyalah datangnya

Nabi Isa as. Sedangkan Nabi Isa as, bukanlah Nabi baru setelah wafatnya Nabi

Muhammad Saw, akan tetapi beliau as sudah menyandang predikat Nabi jauh

sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw.

 

Hadits riwayat Aisyah dan Mughirah di atas sama sekali tidak mengubah makna

khâtamun nabiy seperti halnya makna yang diinginkan oleh orang Ahmadiyyah,

yakni, masih adanya peluang datangnya nabi ataupun rasul baru yang tidak

membawa syariat, selain Isa as. Dengan kata lain, ucapan Aisyah dan Mughirah

tersebut sama sekali tidak bermakna “tidak adanya nabi atau rasul yang

membatalkan syariat Nabi Muhammad Saw”, alias masih ada kemungkinan

datangnya Nabi dan Rasul baru (selain Isa as) yang tidak membatalkan

syariatnya Muhammad Saw. Sebab, hadits Aisyah dan Mughirah di atas jelas

hanya berbicara pada konteks datangnya Nabi Isa as, bukan datangnya nabi

ataupun Rasul baru layaknya Mirza Ghulam Ahmad, yang tidak membatalkan

syariat Muhammad Saw. Sedangkan makna khâtamun nabiy adalah tidak ada nabi

dan rasul baru setelah Nabi Muhammad Saw. Makna semacam ini ditunjukkan

dengan sangat jelas dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam

at-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam ath-Thabarani, dan Imam Mardawaih; Nabi

Muhammad Saw bersabda, “…dan sesungguhnya aku adalah khatamun nabiy, dan

tidak ada nabi setelah aku.” [HR. Imam at-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam

ath-Thabarani, dan Imam Mardawaih].

 

Hadits ini merupakan penjelasan yang paling sharih mengenai khatamun nabiy,

yakni “lâ nabiya ba’di”. Oleh karena itu, penakwilan orang Ahmadiyyah

mengenai khatamun nabiy telah tertolak secara ilmiah dan pasti.

 

Kemungkinan terakhir adalah mengkaitkan kenabian Mirza Ghulam Ahmad dengan

kenabian Isa as; dengan kata lain Mirza Ghulam Ahmad adalah Isa as itu

sendiri. Walhasil, Mirza Ghulam bukanlah Nabi dan Rasul baru, akan tetapi ia

adalah Isa as itu sendiri. Sesungguhnya, pendapat ini jelas-jelas tertolak

dan tidak masuk akal. Sebab, seandainya ada orang mengklaim bahwa Mirza

Ghulam Ahmad adalah Nabi Isa itu sendiri, maka asumsi ini terbantahkan

dengan kenyataan, bahwa Mirza Ghulam Ahmad punya ayah dan ibu yang berasal

dari India. Padahal ibu Isa as adalah Maryam yang bukan berasal dari India,

dan telah meninggal dunia jauh sebelum lahirnya Mirza Ghulam Ahmad. Selain

itu, Nabi Isa as tidak memiliki ayah. Oleh karena itu, Mirza Ghulam Ahmad

bukanlah Nabi Isa as. Bisa saja orang Ahmadiyyah berkeyakinan, bahwa Mirza

Ghulam Ahmad adalah Imam Mahdi. Keyakinan ini tentunya telah menggugurkan

keyakinan mereka sendiri. Sebab, Imam Mahdi bukanlah seorang Nabi maupun

Rasul, sedangkan orang Ahmadiyah menganggap Mirza adalah Nabi. Untuk itu,

Mirza Ghulam Ahmad bukanlah Nabi Isa as, bukan pula nabi ataupun rasul baru,

dan ia bukanlah Imam Mahdi yang ditunggu. Namun, ia adalah al-Kadzdzab

(pembohong besar) yang sesat lagi menyesatkan.

 

Dari seluruh uraian di atas jelaslah, bahwa makna “khâtamun nabiy” adalah

“lâ nabiya ba’di”. Dengan kata lain, nubuwah dan risalah atau pengangkatan

nabi dan rasul baru telah tertutup hingga hari kiamat. Adapun kedatangan

Nabi Isa as setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw sama sekali tidak berarti

bolehnya kaum Mukmin menyakini adanya nabi dan rasul baru, atau adanya

pengangkatan nabi dan rasul baru oleh Allah SWT. Sebab, tidak ada

pengangkatan nabi dan rasul baru, setelah Nabi Muhammad Saw wafat. Sedangkan

Isa as, bukanlah Nabi atau Rasul baru. Oleh karena itu, siapa saja yang

menyakini bahwa setelah nabi Muhammad masih ada nabi dan rasul baru, maka ia

telah keluar dari Islam, dan tidak layak lagi menyandang gelar Muslim dan

Mukmin. Gelar yang pantas bagi mereka adalah murtad.

 

Ketiga, seandainya para shahabat memahami bahwa “makna khâtamun nabiy”

sebagaimana pemahaman orang Ahmadiyah, yakni masih terbukanya peluang adanya

nabi dan rasul baru, tentunya mereka tidak akan memerangi orang-orang yang

mengaku dirinya sebagai Nabi dan Rasul baru. Para shahabat ra telah

berkonsensus (ijma’ shahabat) untuk memerangi orang-orang yang mengaku-ngaku

dirinya sebagai nabi dan rasul. Kenyataan ini bisa dilihat dalam sejarah

mutawatir, bagaimana Abu Bakar ra dan para shahabat telah memerangi

Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku dirinya nabi, dan juga nabi-nabi palsu

lain yang ada di jazirah Arab. Kita semua memahami, para shahabat adalah

sebaik-baik generasi, dan orang yang paling memahami takwil al-Qur’an dan

hadits. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Rasulullah Saw,

bershahabat, dan selalu mengikuti petunjuk-petunjuknya. Ketaqwaan dan

keunggulan mereka dalam memahami agama tidak mungkin ditandingi oleh

generasi-generasi setelahnya, apalagi oleh Mirza Ghulam Ahmad maupun ulama

Ahmadiyah yang jauh dari ketaqwaan dan keluhuran ilmu. Cukuplah bagi kaum

Muslim untuk mengikuti konsensus shahabat untuk menolak dan memerangi

orang-orang yang mengaku sebagai nabi dan rasul setelah Nabi Muhammad Saw.

Konsensus shahabat (ijma’ shahabat) adalah dalil yang sangat sharih untuk

menolak sejauh-jauhnya keyakinan orang-orang Ahmadiyyah; sekaligus sebagai

bukti tak terbantahkan untuk memerangi orang-orang yang mengaku-ngaku

dirinya Nabi dan Rasul baru, seperti halnya kelompok Ahmadiyyah.

 

Keempat, adanya hadits-hadits yang berisikan prediksi Rasulullah Saw

mengenai munculnya nabi-nabi palsu setelah beliau Saw wafat. Imam

at-Tirmidzi mengetengahkan sebuah hadits shahih dari Tsauban, bahwasanya

Nabi Saw bersabda:

 

“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kabilah-kabilah dari umatku mengikuti

orang-orang Musyrik; dan hingga mereka menyembah berhala-hala dari batu.

Sesungguhnya, di tengah-tengah umatku akan muncul para pembohong besar, dan

semuanya mengaku-ngaku sebagai nabi; padahal aku adalah penutup para nabi,

tidak ada nabi setelahku.” [HR. at-Tirmidzi, Abu ‘Isa berkata, “Hadits ini

hasan shahih.” Lihat juga hadits-hadits senada riwayat Imam Abu Dawud,

hadits no. 21361; Imam Ahmad, hadits no. 3710, dan lain-lain].

 

Hadits ini bukti merupakan bukti nyata, bahwa Nabi Muhammad Saw adalah

penutup para Nabi. Seandainya ada nabi dan rasul baru setelah Nabi Muhammad

Saw, tentunya beliau tidak akan menyatakan adanya para pembohong besar yang

mengaku-ngaku dirinya Nabi dan Rasul setelah beliau Saw. Jika Mirza Ghulam

Ahmad, Lia Aminuddin, dan yang lain-lain mengaku dirinya Nabi dan Rasul,

tentulah mereka adalah para pembohong besar yang telah disebutkan oleh

Rasulullah Saw. Atas dasar itu, jika ada orang yang mengaku nabi dan rasul

baru, dan mengklaim telah diangkat oleh Allah SWT sebagai nabi dan utusan

Allah, ketahuilah orang-orang tersebut adalah pembohong besar yang telah

diprediksi kehadirannya oleh Nabi Muhammad Saw. Jika anda menyakini mereka,

dan rela menjadi pengikutnya yang setia, sesungguhnya, anda termasuk kaum

murtad yang telah keluar dari milah yang lurus.

 

Kelima, tidak ada Nabi dan Rasul baru di antara jeda kenabian Muhammad Saw

dengan datangnya Isa as. Konteks larangan penggunaan kata “lâ nabiya ba’di”

yang terdapat di dalam hadits Aisyah ra hanya berhubungan dengan “penafian

terhadap kedatangan Isa as”, dan sama sekali tidak berhubungan dengan

datangnya Nabi dan Rasul baru selain Isa as. Aisyah ra khawatir -sebagaimana

dijelaskan dalam hadits Mughirah bin Syu’bah ra- kalau orang menggunakan

kata “lâ nabiya ba’di” mereka akan melupakan kedatangan Nabi Isa as.

Sedangkan Nabi Isa as telah diangkat Nabi oleh Allah SWT jauh sebelum Nabi

Muhammad Saw diutus. Kedatangan Nabi Isa as setelah wafatnya Nabi Muhammad

Saw tidak boleh diartikan akan datang pula nabi dan rasul baru, alias ada

pengangkatan nabi dan rasul baru. Sebab, kedatangan Nabi Isa as menjelang

hari kiamat, hanyalah sebagai tamu, dan beliau as tidak diangkat untuk kedua

kalinya menjadi seorang Nabi as. Ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang

dituturkan oleh Imam Abu Dawud. Imam Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadits,

bahwa Rasulullah Saw bersabda:

 

“Tidak ada nabi, di antara aku dan ia, yakni ‘Isa as, sesungguhnya ia adalah

tamu. Bila kalian melihatnya, maka kalian akan mengenalnya sebagai seorang

laki-laki yang mendatangi sekelompok kaum yang berwarna merah dan putih,

seakan kepalanya turun hujan, bila ia tidak menurunkan hujan, maka akan

basah, Dan ia akan memerangi manusia atas Islam, menghancurkan salib,

membunuhi babi, mengambil jizyah, saat itu Allah menghancurkan seluruh agama

kecuali Islam, sedangkan ‘Isa as menghancurkan Dajjal. Dan ia berada di muka

bumi selama 40 tahun, kemudian wafat dan kaum muslimin mensholatkannya.”

[HR. Abu Dawud].

 

Hadits ini menyatakan dengan sharih, bahwa tidak ada Nabi dan Rasul baru

dalam jeda waktu antara diutusnya Muhammad Saw dengan kedatangan Isa as

menjelang hari kiamat. Berdasarkan hadits ini bisa disimpulkan, bahwa klaim

kenabian Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin, dan sebagainya adalah klaim

kosong yang penuh kedustaan dan kebohongan.

 

Kesimpulan

 

1. Hadits riwayat Aisyah ra mempunyai pengertian, bahwa larangan penggunaan

kata “lâ nabiya ba’di” ditujukan agar kaum Mukmin tidak melupakan kedatangan

Nabi Isa as kelak menjelang hari kiamat. Sebab, jika dipahami sepintas,

ucapan “lâ nabiya ba’di” telah menafikan kedatangan Nabi Isa as.

 

2. Hadits Aisyah sama sekali tidak menunjukkan pengertian, bahwa setelah

Rasulullah Saw wafat akan datang nabi baru yang tidak membatalkan syariat

Muhammad Saw. Tidak bisa dipahami juga, bahwa maksud “lâ nabiya ba’di”

adalah nabi yang membatalkan syariat Muhammad Saw, bukan nabi dan rasul baru

secara mutlak.

 

3. Sesungguhnya risalah dan nubuwwah telah tertutup setelah wafatnya Nabi

Muhammad Saw. Yang akan datang hanyalah Nabi Isa as; sedangkan Nabi Isa as

bukanlah Nabi dan Rasul yang baru diangkat setelah wafatnya Nabi Muhammad

Saw. Beliau as telah diangkat jauh hari sebelum Nabi Muhammad Saw lahir.

Kenyataan ini berbeda dengan Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminuddin, dan lain

sebagainya, yang mengaku diangkat Nabi dan Rasul oleh Allah SWT setelah

wafatnya Nabi Muhammad Saw.

 

4. Makna “khâtamun nabiyyîn” adalah penutup para nabi, atau nabi terakhir

yang diangkat oleh Allah SWT. Tidak ada pengangkatan Nabi dan Rasul baru

setelah wafatnya Rasulullah Saw.

 

5. Para shahabat telah bersepakat untuk memerangi siapa saja yang

mengaku-ngaku dirinya sebagai nabi dan rasul setelah wafatnya Muhammad Saw.

Mereka hanya mengakui kedatangan Isa as, bukan nabi dan rasul baru.

 

6. Kelompok Ahmadiyah telah terjatuh kepada kemurtadan, dan layak untuk

dipidana hukuman mati. Hanya saja, yang berhak menjatuhkan sanksi ini bukan

individu maupun kelompok, akan tetapi kepala negara Islam yakni Khalifah

atau Amirul Mukminin. Haram hukumnya, seorang individu maupun kelompok

memerangi orang-orang murtad. Bahkan, jika ada seorang Muslim membunuh

orang-orang murtad, maka ia bisa dikenai hukuman qishash; seperti halnya

jika ia membunuh orang kafir yang menjadi warga negara Daulah Islamiyyah

(lihat Syaikh Dr. ‘Abdurrahman al-Maliki, Nidzâm al-‘Uqubât fi al-Islâm,

1990, Daar al-Ummah, Beirut, Libanon, hal. 84).

 

Demikianlah, anda telah kami jelaskan dengan gamblang tentang syubhat yang

diketengahkan oleh orang-orang Ahmadiyyah atas haditsnya Aisyah ra.

 

Akhirnya, kami hanya menyeru kepada kaum Ahmadiyah untuk segera bertaubat

dan kembali ke pangkuan Islam. Wahai kaum yang lalai, kembalilah kepada

Islam yang lurus. Janganlah engkau mudah ditipu dan dipedaya oleh kaum

Musyrik yang tidak perna ridha dengan kelurusan dan kesucian agama kalian.

Wallahu al-Hâdiy al-Muwaffiq ila Aqwâm ath-Thâriq [Syamsuddin Ramadhan]

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: